Mengisi 10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Selamat pagi, siang, sore dan malam para pembaca!! Gak nyangka ya sebentar lagi mau lebaran Idul Adha, berhubung tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada hari ini, adminnya mau posting tentang “Mengisi 10 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah” selamat membaca ya, dan semoga ada manfaat dari artikel ini.

10 hari pertama Dzulhijjah adalah hari2 istimewa. Allah swt.: “Demi Fajar. Demi malam-malam yang sepuluh. Demi yang genap dan yang ganjil.” (QS. Al-Fajr/89:1-3). Rasulullah saw. bersabda: ”Tiada hari, di mana amal shalih padanya lebih Allah cintai selain hari-hari ini”, yakni 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah. Para shahabat bertanya: wahai Rasulullah, apakah termasuk jihad fi sabilillah juga tidak bisa (menandinginya)?, Rasulullah saw. menjawab: “Termasuk jihad fi sabilillah sekalipun, kecuali seorang pergi berjihad dg jiwa dan hartanya lalu tdk ada sesuatupun darinya yang kembali, yakni sampai gugur sebagai syuhada.” (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Ibadah-ibadah yg perlu ditingkatkan, di antaranya:

1. Pada tgl 1-8 Dzulhijjah perbanyak ibadah mahdhah / ritual secara umum (taubat, istighfar, baca qur'an, shalat malam, dzhuha, terutama shaum dll.) juga ibadah sosial (memaafkan, berbaik sangka, silaturahim, memberi hadiah dll). Dalilnya berdasarkan keumuman hadits di atas.

2. Secara khusus shaum tanggal 9 Dzulhijjah/shaum arafah. Rasulullah saw. bersabda: “Ia menghapuskan (dosa) 1 tahun yang telah berlalu dan (dosa) 1 tahun yang akan datang.” (HR. Muslim).

3. Takbir, tahmid, tahlil dan shalat Idul Adha pd 10 Dzulhijjah.
"Maka perbanyaklah padanya ucapan tahlil, takbir n tahmid” (HR. Ahmad)

4. Menyembelih hewan kurban pd tanggal 10 / 3 hari Ayyamut Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah).

“Tiada satu amal pun yang dilakukan seseorang pada Yaumun-Nahr (hari raya qurban) yang lebih dicintai oleh Allah drpd mengalirkan darah (berkurban). Maka berbahagialah kamu dengannya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Tgl 1 Dzulhijjah bertepatan pada Hari Ahad, 6 Oktober 2013. Selamat memasuki Bulan Mulia.

Arti Minal ‘Aidin wal Faizin

Arti Minal ‘Aidin wal Faizin bukan Mohon Maaf Lahir Batin



Ucapan ini: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal ‘Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin, merupakan ucapan yang biasa disampaikan dan diterima oleh kaum muslimin di hari lebaran baik melalui lisan ataupun kartu ucapan idul fitri. Ada dua kalimat yang diambil dari bahasa arab di sana, yaitu kalimat ke dua dan tiga. Apakah arti kedua kalimat itu? Dari mana asal-usulnya? Sebagian orang kadang cukup mengucapkan minal ‘aidin wal faizindengan bermaksud meminta maaf. Benarkah dua kalimat yang terakhir memiliki makna yang sama?
Para Sahabat Rasulullah biasa mengucapkan kalimat Taqobalallaahu minnaa wa minkum di antara mereka. Arti kalimat ini adalah semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya,menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan. Para sahabat juga biasa menambahkan:shiyamana wa shiyamakum, semoga juga puasaku dan kalian diterima.
Jadi kalimat yang ke dua dari ucapan selamat lebaran di atas memang biasa digunakan sejak jaman para Sahabat Nabi hingga sekarang.
Lalu bagaimana dengan kalimat: minal ‘aidin wal faizin? Menurut Quraish Shihab dalam bukunya Lentera Hati, kalimat ini mengandung dua kata pokok: ‘aidin dan faizin (Ini penulisan yang benar menurut ejaan bahasa indonesia, bukan aidzin,aidhin atau faidzin,faidhin. Kalau dalam tulisan bahasa arab: من العاءدين و الفاءيزين )
Yang pertama sebenarnya sama akar katanya dengan ‘Id pada Idul Fitri.  ‘Id itu artinya kembali, maksudnya sesuatu yang kembali atau berulang, dalam hal ini perayaan yang datang setiap tahun. Sementara Al Fitr, artinya berbuka, maksudnya tidak lagi berpuasa selama sebulan penuh. Jadi, Idul Fitri berarti “hari raya berbuka” dan ‘aidin menunjukkan para pelakunya, yaitu orang-orang yang kembali. (Ada juga yang menghubungkan al Fitr dengan Fitrah atau kesucian, asal kejadian)
Faizin berasal dari kata fawz yang berarti kemenangan. Maka, faizin adalah orang-orang yang menang. Menang di sini berarti memperoleh keberuntungan berupa ridha, ampunan dan nikmat surga. Sementara katamin dalam minal menunjukkan bagian dari sesuatu.
Sebenarnya ada potongan kalimat yang semestinya ditambahkan di depan kalimat ini, yaitu ja’alanallaahu(semoga Allah menjadikan kita). Jadi selengkapnya kalimat minal ‘aidin wal faizin bermakna (semoga Allah menjadikan kita) bagian dari orang-orang yang kembali (kepada ketaqwaan/kesucian) dan orang-orang yang menang (dari melawan hawa nafsu dan memperoleh ridha Allah). Jelaslah, meskipun diikuti dengan kalimat mohon maaf lahir batin, ia tidak mempunyai makna yang serupa. Bahkan sebenarnya merupakan tambahan doa untuk kita yang patut untuk diaminkan.